BAB I
PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
Teori belajar
Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.[1]
Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal
sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.[2]
Tiori
Kognitif pada hakikatnya adalah tiori yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan
dengan kemampuan manusia dalam memahami barbagai pengalamannya sehingga
mengandung makna bagi manusia tersebut. Tiori kognitif menekankan peranan
struktur ingatan dan pengetahuan atau schemata terhadap proses penerimaan,
pemerosesan penyimpanan, pemanggilan kembali informasi yang telah ada didalam
skemata, atau tidak dapat memanggil kembali skemata yang ada di pusat memori
atau lupa, bagi kognitivisme balajar bukan sekedar menjelaskan kegiatan yang
berkaitan dengan latihan dan penguatan atau reward, seperti yang menjadi fokos
pembicaraan pada pendekatan behavioristisme.[3]
- RUMUSAN MASALAH
Dari rumasan masalah diatas, maka
penulis dapat merumuskan masalah yaitu :
1. Bagaimana Model Pembelajaran Behavioristik ?
2. Bagaimana model Pengajaran Kognitivistik ?
3. Bagaimana model Pengajaran Konstruktivistik ?
- TUJUAN
1. Memenuhi persyaratan perkuliahan pada mata kulyah Pengmbangan Model
Pembelajaran
2. Dapat mengetahui bagaimana Model Pembelajaran Behavioristik
3. Dapat mengetahui Model Pengajaran Kognitivistik
4. Dapat mengetahui bagaimana model Pengajaran Konstruktivistik
- SISMATIKA PENULISAN
Adapun sistimatika penulisan dalam
makalah ini adalah :
1.
BAB. I,
berisikan tentang Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan
sistimatika penulisan
2.
BAB II,
berisakan tentang pembahasan
3.
BAB III, berisikan tentang kesimpulan dan saran
4.
Daftar
pustaka
BAB II
PEMBAHASAN
A.
MODEL PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK
Tujuan pembelajaran menurut Behavioristik adalah
behavioral learning ourcome yang dinyatakan secara spesifik, seperti :
1.
A – Audience
adalah siswa
2. B – Behavior perilaku atau kompetensi yang perlu di tampilkan setelah
proses belajar dilakukan, seperti “ menjawab pertanyaan ‘’
3. C – Condition setelah menyelasaikan unit pelajaran yang dievaluasi diakhir
proses pembelajaran.
4.
D – Degres
yaitu pencapaian hasil belajar, misalnya 90 %.
Behavioristik
tidak hanya diterapkan di dalam psikologi yang dikenal dengan behavioral
pychology, akan tetapi juga diterapkan di dalam dunia pendidikan dan
pembelajaran. Penerapan teori behavioristic di dalam pembelajaran, dimulai
dengan melakukan analisis kebutuhan siswa, kemudian dilanjutkan menetapkan
tujuan pendidikan atau pembelajaran. Dalam pendekatan behavioristic hal ini
disebut behavioral Outcome. Penerapan behavioristic di dalamdunia pendidikan
dapat tercermin dari perumusan tujuan pembelajaran, penerapan mesin belajar
terprogram atau programmed instructional, Pembelajaran individual atau
individualized instructional, pembelajaran dengan bantuan computer atau
computer assisted learning dan pendekatan sistem. [4]
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Menurut
teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon
tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat
diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus
dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut.
Ciri-ciri Teori Belajar Behavioristik
Untuk
mempermudah mengenal teori belajar behavioristik dapat dipergunakan ciri-cirinya
yakni
1. mementingkan pengaruh lingkungan (environmentalistis)
2. mementingkan bagian-bagian (elentaristis)
3. mementingkan peranan reaksi (respon)
4. mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar
5. mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu
6. mementingkan pembentukan kebiasaan.
7. ciri khusus dalam pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal’ atau
trial and error.[5]
B. MODEL PEMBELAJARAN KOGNITIVISTIK
Metode
pembelajaran kognitif merupakan salah satu metode pembelajaran yang menitih
beratkan pada bagaimana peserta didik berpikir, Winkel (1996: 53) dalam bukunya
mengatakan bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”. memahami dan mengembangkan
konsep serta memecahkan masalah dari konsep yang telah dipahami. Untuk dapat
memahami dan selalu mengingat akan konsep-konsep yang diberikan kepada peserta
didik maka pendidik haruslah memberikan penekanan-penekanan serta mengulang
atau mereview materi-materi lalu yang telah diberikan agar apa yang di terima
oleh peserta didik dapat masuk ke dalam Long Therm Memory (Memori Jangka
Panjang). Apabila suatu konsep materi sudah masuk dalam memori jangka panjang
maka untuk mengembangkan dan memecahkan masalah dari konsep yang akan dipahami
akan lebih mudah.
Kelebihan dari Metode Pembelajaran Kognitif
Setiap teori pembelajaran pastilah memiliki kelebihan dibandingkan teori pembelajaran yang lain. Selain itu setiap teori pembelajaran juga melengkapi dan menambah dari kekurangan teori-teori pembelajaran yang telah diungkapkan oleh para ahli sebelumnya. Teori pembelajaran Kognitif ini memiliki kelebihan yang terbilang banyak di antaranya adalah :
1. Negara Indonesia dalam kurikulum
pendidikannya lebih menekankan pada teori belajar kognitif yang mengutamakan
pada pengembangan pengetahuan yang dimiliki dan value pada setiap individu
2. Pada metode pembelajaran kognitif
pendidik hanya perlu memberikan dasar-dasar dari materi yang di ajarkan untuk
pengembangan dan kelanjutannya diserahkan kepada peserta didik, dan pendidik
hanya perlu memantau, mengatur dan menjelaskan dari alur pengembangan materi
yang telah diberikan
3. Dengan metode pembelajaran kognitif
maka pendidik dapat memaksimalkan ingatan yang dimiliki oleh peserta didik
untuk mengingat semua materi-materi yang diberikan karena pada pembelajaran
kognitif salah satunya menekankan pada daya ingat peserta didik untuk selalu
mengingat dan mengingat akan materi-materi yang telah diberikan
4. Tingkatan terakhir pada domain belajar
kognitif menurut krathwol adalah Creation yang berarti kreasi atau
pembuatan suatu hal baru atau membuat suatu yang baru dari hal yang sudah ada,
maka dari itu dalam metode belajar kognitif peserta didik harus lebih bisa
mengkreasikan hal-hal baru yang belum ada atau menginovasi hal yang sudah ada
menjadi lebih baik lagi.
5. Selain itu metode pembelajaran kognitif
ini mudah untuk di terapkan dan telah banyak diterapkan pada pendidikan
Indonesia di segala tingkatan.
Selain
kelebihan di atas, masih banyak lagi kelebihan yang terdapat dalam metode
pembelajaran kognitif ini.
Kekurangan dari Metode Pembelajaran Kognitif
Selain meninjau dari segi kelebihan metode pembelajaran kognitif, di sini juga akan ditinjau dari segi kekurangannya. Berikut adalah beberapa kekurangan yang dimiliki oleh metode pembelajaran kognitif :
1. Karena pembelajaran kognitif menitih
beratkan pada kemampuan kognitif atau kemampuan ingatan peserta didik, dan
kemampuan ingatan masing-masing peserta didik maka di sini kelemahan dari
pembelajaran kognitif adalah selalu menganggap sama semua daya ingat
masing-masing peserta didik sama dan tidak berbeda-beda
2. Dalam metode kognitif juga tidak
memperhatikan cara peserta didik dalam mengeksplorasi pengetahuan dan cara-cara
peserta didik dalam mencarinya, karena pastilah masing-masing individu memiliki
cara yang berbeda dalam mencari sebuah informasi, Seperti hasil dari penelitian
Biggs dan Collis (1982)
3. Jika seorang pendidik mengajar hanya
menggunakan metode kognitif saja terutama dalam sekolah kejuruan tanpa
dibarengi dengan metode pembelajaran lain, maka dapat dipastikan peserta didik
yang diajarkan tidak bisa mengerti sepenuhnya terhadap materi-materi yang
diberikan
4. Jika dalam pendidikan kejuruan hanya
menggunakan metode kognitif tanpa dibarengi dengan metode pembelajaran yang
lain maka peserta didik akan kesulitan dalam melakukan praktek kegiatan atau
materi. Sebagai contoh jika seorang guru memberikan cara untuk tune up sebuah
mobil tanpa memberikan contoh praktek kegiatan tune up itu sendiri (hanya teori
saja yang diberikan) mungkin siswa tidak akan bisa untuk melakukan tune up
sendiri.
5. Dalam menerapkan metode pembelajaran
kognitif perlu diperhatikan kemampuan peserta didik untuk mengembangkan suatu
materi yang telah diterimanya, apabila seorang peserta didik tidak mampu
menggunakan kemampuannya untuk mengembangkan suatu materi yang telah diberikan
oleh pendidik, maka peserta didik tadi tidak akan mampu mencapai titik
tertinggi dalam domain belajar kognitif yang telah diungkapkan oleh Krathwol.
Masih
banyak lagi kekurangan yang bisa diambil dari metode pembelajaran kognitif ini
selain yang telah disebutkan di atas.
Cara dan Strategi yang Tepat Untuk Menerapkan Metode Pembelajaran
Kognitif
Dalam menerapkan suatu metode pembelajaran haruslah ada cara-cara yang tepat yang bisa digunakan agar dalam proses belajar dapat tercapai sesuai dengan keinginan, begitu juga dalam menerapkan metode pembelajaran kognitif ada cara-cara dalam menerapkannya kepada peserta didik. Berikut adalah cara dan strategi yang bisa digunakan dalam menerapkan metode pembelajaran kognitif ini.
1.
Dalam tahap Remembering.
Saat
pertama kali baiknya memberikan motivasi-motivasi terlebih dahulu kepada
peserta didik agar bisa menjadi inspirasi yang mendorong peserta didik untuk
belajar. Saat menyampaikan hendaknya pengajar mampu melakukan
penekanan-penekanan, pengodean, serta perhatian kepada materi yang
disampaikannya, serta di akhir jam pelajaran lakukan pengulangan terhadap
materi yang telah diberikan. Untuk lebih meningkatkan daya ingat peserta didik
akan materi lakukan juga sebuah diskusi untuk memberikan kesempatan kepada
masing-masing peserta didik untuk mengeksplorasi informasi dari banyak hal.
2.
Tahap Understanding
Seperti halnya tahap Remembering, dalam tahap Understanding
juga dalam memberikan pendahuluan hendaknya yang menarik. Dalam tahap ini
peserta didik haruslah bereksplorasi dari sumber-sumber yang ada seperti
observasi, diskusi atau eksperimen namun sebelum melakukan kegiatan eksplorasi
pendidik haruslah memberikan sebuah pertanyaan kepada peserta didik sebagai
bahan dasar eksplorasi. Inti dari tahap Understanding adalah sebelum
pendidik menyampaikan materi, jangan beri tahu peserta didik terlebih dahulu,
biarkan mereka mencari tahu dengan bereksplorasi sendiri seperti tadi,
hendaknya juga materi yang akan disampaikan bersifat baru bagi peserta didik
sehingga membuat peserta didik merasa penasaran. Hal tersebut mengacu pada
sekolah-dasar.blogspot.com (2012).
3.
Tahap Aplication
Dalam tahap ini pendidik menyampaikan kasus-kasus (problem) atau bisa
juga dari kasus yang berasal dari peserta didik saat bereksplorasi yang biasa
disebut Study kasus. Setelah itu pendidik harus memberikan sebuah panduan dalam
menyelesaikan kasus-kasus yang ada dengan panduan yang bersifat global. Setelah
memberikan panduan kepada peserta didik, biarkan mereka memecahkan kasus-kasus
yang telah diungkapkan sebelumnya menggunakan panduan yang telah diberikan
pendidik tadi. Akhir tahap ini pendidik harus memberikan masukan-masukan atau
koreksi terhadap pemecahan kasus yang kurang tepat atau yang lainnya. Jangan
lupa berikan sebuah penutup yang baik.
4.
Tahap Analysis
Dalam tahap ini process skill harus digunakan untuk menganalisis
masalah. Namun sebelum melakukan analisis pertama-tama yang harus dilakukan
adalah menyampaikan masalah-masalah yang dihadapi kemudian mengumpulkan
data-data dari masalah yang bersifat deduktif setelah itu barulah menganalisis
data dari masalah yang dihadapi, analisis dalam hal ini harus bersifat
deskriptif. Setelah menganalisis semua data-data yang telah ditemukan maka
pembuatan kesimpulan harus dilakukan, semakin detail hasil dari analisis tadi
maka semakin bagus pula kesimpulannya. Jangan lupa memberikan pendahuluan di
awal dan penutup di akhir jam.
5.
Tahap Evaluation
Tahap
Evaluation atau evaluasi adalah tahap mengevaluasi dari data atau
kesimpulan yang di dapat dalam tahap Analysis untuk dilihat kebenarannya
atau kebetulannya bila peserta didik memiliki kesalahan-kesalahan yang
dilakukan saat menganalisis atau mungkin kesalahan data saat menganalisis maka
yang berhak membenarkan atau meluruskan kembali adalah pendidik. Tahap-tahap
rangkaian dalam Evaluation ini hampir sama dalam tahap pada Analysis.
6.
Tahap Creation
Dalam tahap ini peserta didik haruslah berperan aktif dan berperan
penuh, sementara pendidik hanya sebagai pemantau saja. Pertama kali yang harus
dilakukan peserta didik dalam tahap ini adalah menyampaikan proyek atau kasus,
selanjutnya adalah evaluasi dari proyek atau kasus yang telah disampaikan tadi.
Yang menjadi dasar dalam tahap Creation ini adalah memperbaiki
kelemahan-kelemahan yang ada. Selanjutnya adalah inovasi proyek atau kasus
dalam hal ini peserta didik haruslah membuat sebuah inovasi yang baru dari hal
yang ada. Inovasi dalam hal ini bukan berarti membuat sebuah hal yang baru
namun inovasi adalah membuat suatu kelebihan dari sebuah kekurangan yang
dimiliki oleh hal tersebut. Setelah melakukan inovasi hal yang harus dilakukan
peserta didik adalah melaporkan hasil dari proyek atau kasus yang telah
dikerjakan kepada peserta didik lain atau kepada pendidik. Jangan lupa juga
berikan sebuah penutup dan pembuka saat di tahap ini.
C. MODEL PEMBELAJARAN
KONSTUKTIVISTIK
Konstruktivisme
merupakan pendekatan dalam psikologi yang berkeyakinan bahwa anak dapat
membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri tentang dunia disekitarnya atau
dengan kata laian anak dapat membelajarkan dirinya sendiri melalui berbagai
pengalamannya.[6]
Pendidikan
selama ini terus mengalami pembaharuan untuk menciptakan berbagai metode yang
berguna bagi perkembangan zaman untuk memenuhi tuntutan manusia yang semakin
hari semakin bermacam dengan berbagai tipe. Tingkat kebutuhan ini menjadikan
masyarakat melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Pada bidang Pendidikan
sendiri mengandung berbagai bidang yang terus mengalami kemajuan, misalnya
dalam bidang Pendidikan mengandung Kurikulum
yang terus berganti mengikuti tuntutan perkembangan zaman sehingga
sistem Pendidikan mengalami Kemajuan, bidang lain misalnya Kualitas seorang
Pengajar. Kurikulum yang berlaku sekarang ini merupakan bentuk terbaru dari
pengembangan kurikulum Berbasis Kompetensi yang menekankan pada guru untuk
semakin gencar berupaya menggairahkam kembali dunia Pendidikan khususnya yang
berkaitan dengan proses pembelajaran. Berbagai penelitian diadakan untuk
memajukan dunia Pendidikan. Dalam Penelitian itu digunakan berbagai metode
pendekatan misalnya metode Konstruktivisme.
Menurut
Glasersfeld (1987) konstruktivisme sebagai ‘teori pengetahuan dengan akar dalam
“filosofi, psychology, dan cybernetics”. Von Glasersfeld mendefinisikan
konstruktivisme radikal selalu membentuk konsepsi Pengetahuan. Ia melihat
Pengetahuan sebagai sesuatu hal yang dengan aktif menerima apapun melalui
pemikiran sehat atau melalui komunikasi. Hal ini secara aktif terutama
membangun pengetahuan. Sedangkan menurut Murpy(1997: 7) kontruktivisme terdiri
dari suatu jaringan sesuatu hal dan berhubungan bahwa kita hidup bersandar pada
hidup kita, and yang lain pun sama terhadapnya, kita percaya, orang lain juga
bersandar juga. Dalam hal ini siswa menginterpretasikan dan membangun suatu
kenytaan berdasarkan pada interaksi dan pengalamannya dengan lingkungannya.
Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan
keaktifan terhadap seseorang untuk belajar menemukan sendiri kompetensi,
pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan
dirinya sendiri.
Adapun tujuan dari teori ini adalah:
a. Adanya
motivasi untuk seseorang bahwa belajar adalah tanggung jawab seseorang itu sendiri.
b. Mengembangkan
kemampuan seseorang untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri
pertanyaannya.
c. Membantu seseorang untuk mengembangkan
pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
d. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk menjadi pemikir yang
mandiri.
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
1.
Prinsip dan Karakteristik Konstruktivisme
Belajar
merupakan proses konstruksi pengetahuan melalui keterlibatan fisik dan mental
seseorang secara aktif, dan juga merupakan proses asimilasi dan menghubungkan
bahan yang dipelajari dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki seseorang
sehingga pengetahuannya mengenai objek tertentu menjadi lebih kokoh. Semua
pelajar benar-benar mengkonstruksikan pengetahuan untuk dirinya sendiri, dan
bukan pengetahuan yang datang dari guru “diserap oleh murid. Ini berarti bahwa
setiap murid akan mempelajari sesuatu yang sedikit berbeda dengan pelajaran
yang diberikan (Muijs dan Reynolds, 2008:97).
Selanjutnya
Muijs dan Reynolds (2008:97)
mengemukakan bahwa murid adalah konstruktor pengetahuan aktif yang
memiliki sejumlah konsekuensi yaitu :
1. Belajar selalu merupakan sebuah proses aktif.
Pelajar secara aktif mengkonstrusikan
belajarnya daru berbagai macam input yang diterimanya. Ini menyiratkan bahwa
belajar harus bersikap aktif agar dapat belajar secara efektif. belajar adalah
tentang membantu murid untuk mengkonstruksikan makna mereka sendiri, bukan
tentang “mendapatkan jawaban yang benar” karena dengan cara seperti ini murid
dilatih untuk mendapatkan jawaban yang benar tanpa benar-benar memahami
konsepnya.
2. Anak-anak belajar paling
baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif (konflik dengan berbagai
ide dan prakonsepsi lain) melalui pengalaman, refleksi dan metakognisi (Beyer,
1985)
3. Bagi konstruktivis, belajar
adalah pencarian makna. murid secara aktif berusaha mengkonstruksikan makna.
Dengan demikian, guru mestinya berusaha mengkonstruksi berbagai kegiatan
belajar di seputar ide-ide besar eksplorasi yang memungkinkan murid untuk
mengkonstruksi makna
4. Konstruksi pengetahuan
bukan sesuatu yang bersifat individual semata. Belajar juga dikonstruksikan
secara sosial, melalui interaksi dengan teman sebaya, guru, orang tua, dan
sebagainya. Dengan demikian yang terbaik adalah mengkonstruksikan siatuasi
belajar secara sosial, dengan mendorong kerja dan diskusi kelompok
5. Elemen lain yang berakar
pada fakta bahwa murid secara individual dan kolektif mengkonstruksikan
pengetahuan. Agar efektif guru harus memiliki pengetahuan yang baik tentang
perkembangan anak dan teori belajar, sehinggga mereka dapat menilai secara
akurat belajar seperti apa yang dapat terjadi
6. Belajar selalu
dikonseptualisasikan. Kita tidak mempelajari fakta-fakta secara abstrak, tetapi
sealalu dalam hubungannya dengan apa yang telah kita ketahui.
7. Belajar secara betul-betul mendalam berarti mengkonstruksikan
pengetahuan secara menyeluruh, dengan mengeksplorasi dan menengok kembali
materi yang kita pelajari dan bukan dengan cepat pindah satu topik ke topik
lain. Murid hanya dapat mengkonstruksikan makna bila mereka dapat melihat keseluruhannya,
bukan hanya bagian-bagiannya
8. Mengajar
adalah tentang memberdayakan pelajar, dan memungkinkan pelajar untuk
menemukakan dan melakukan refleksi terhadap pengalaman-pengelaman realistis.
Ini akan menghasilkan pembelajaran yang otentik/asli dan pemahaman yang lebih
dalam dibandingkan dengan memorisasi permukaan yang sering menjadi ciri
pendekatan-pendekatan mengajar lainnya (Von Glaserfelt, 1989). Ini juga membuat
kaum konstruktivis percaya bahwa lebih baik menggunakan bahan-bahan hands-on
daripada tekxbook
Suparno (1997) mengidentifikasi 3 prinsip
kontruktivisme dalam belajar yakni sebagai berikut:
a.
pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial,
b.
pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pengajar kepada pebelajar, kecuali
dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar,
c.
pengajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar
proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efisien.
Sedangkan Jacqueline
Grennon Brooks dan Martin G. Brooks dalam The case for constructivist
classrooms. (1993) menawarkan lima prinsip kunci konstruktivist teori belajar.
Menurutnya terdapat lima panduan prinsip konstruktivisme:
Prinsip 1: Permasalahan yang
muncul sebagai hal yang relevan dengan siswa.
Dalam banyak contoh,
masalah style Anda mengajar mungkin akan menjadi relevan dengan selera untuk
para siswa, dan mereka akan mendekatinya, merasakan keterkaitannya kepada
kehidupan mereka.
Prinsip 2: Struktur belajar
di sekitar konsep-konsep utama
Mendorong para siswa
untuk membuat makna dari bagian-bagian yang menyeluruh/utuh ke dalam
bagian-bagian yang terpisah-pisah. Hindari mulai dengan bagian-bagian dahulu
untuk membangun kemudian sesuatu yang "menyeluruh/utuh."
Prinsip 3: Carikan
dan hargai poin-poin pandangan siswa sebagai jendela memberi alasan mereka.
Tantangan gagasan dan
pencarian elaborasi yang tepat ditangkap siswa, sering mengancam banyak siswa.
Maksudnya adalah bahwa sering para siswa di dalam kelas yang secara tradisional
mereka tidak bisa menduga serta menghubungkan apa yang guru maksudkan untuk
jawaban yang benar dan cepat, agar ia tidak berada di luar topik dari diskusi
kelas yang diadakan. Mereka harus betul-betul "masuk" dan ”sibuk”
ikut mengkaji tugas-tugas dalam belajar sebagai konstruktivis lingkungan
melalui petanyaan-peranyaan, sanggahan, ataupun jawaban yang diajukan.
Prinsip 4. Sesuaikan
pembelajaran dengan perkiraan menuju pengembangan siswa.
Memperkenalkan
topik kajian pengembangan dengan tepat atau sesuai, adalah suatu awal yang baik
untuk dapat dipahami pengembangan konsep berikutnya
Prinsip 5; Nilai hasil belajar siswa dalam konteks pembelajaran.
Geser
atau ubah peniaian itu harus benar-benar sedang menilai apa yang benar-benar
sedang terjadi saat penilaian itu. Berlangsung, dan jangan sekali-kai menilai
itu dalam kebiasaan skor yang diperoleh seseorang dari waktu ke waktu. Ekspresi
Anda bisa bervariasi, kadang-kadang optimis, periang, namun sesekali bisa
pesimis, sedih, maupun marah. Namun peru diingat marahnya seorang guru dalam
kerangka sedang mendidik, dalam konteks pembelajaran, bukan marah
mengekspresikan kekesalan.
Ketiga
prinsip di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif
dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan
melalui lingkungannya. Dalam hal ini, Funston (1996) lebih spesifik mengatakan
bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari
kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari
suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan
mempengaruhi proses belajar tersebut.
Berdasarkan uraian
diatas maka secara umum ada empat
prinsip dasar konstruktivisme dalam pembelajaran :
1. Pengetahuan
terdiri atas konstruksi masa silam
2. Pengkonstruksian
pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi.
3. Belajar
merupakan suatu proses organic penemuan lebih dari proses mekanik yang
akumulatif.
4. Mengacu
pada mekanisme yang memungkinkan terjadinya perkembangan struktur kognitif.
Belajar bermakna, akan terjadi melalui proses refleksi dan resolusi konflik.
Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran
diantaranya bahwa mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari
pembelajar kepada pebelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan
pembelajar membangun sendiri pengetahuannya sendiri, mengajar berarti
berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna,
mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Dasar pemikiran
seperti ini menjadikan teori konstruktivistik sebagai landasan teori-teori
belajar yang pernah ada, seperti teoru perubahan konsep, teori belajar bermakna
dan teori skema. Dari penjelasan ini tergambar bahwa konstruktivisme merupakan
teori yang berlandaskan pada pembelajaran siswa dalam membentuk pengetahuannya
sendiri dan guru sebagai mediator dan fasilitator yang relevan.
Oleh karena itu, paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi
yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuam awal
tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Untuk
itu, guru dituntut untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam
belajar. guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah
yang sama dan sesuai dengan kemampuannya
Karakteristik belajar dengan pendekatan
konstruktivisme menurut Slavin (1997) ada
4 yaitu:
1. Proses
Top-Down, yang berarti bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang kompleks
untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan bantuan
guru) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa dapat
diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar
tentang mengeja, tata bahasa, dan tanda baca.
2. Pembelajaran
kooperatif yaitu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep
yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temanya.
3. Generative
learning (pembelajaran generatif) yaitu belajar itu ditemukan meskipun apabila
kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melakukan operasi mental
dengan informasi itu untuk membuat informasi masuk kedalam pemahaman mereka.
4. Pembelajaran
dengan penemuan yaitu, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui
keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan
guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang
mmungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
2. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN
SECARA KONSTUKTIVISME
Adapun
ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah ;
1.
Memberi
peluang kepada murid untuk mendapatkan pengetahuan baru melalui proses terlibat
secara langsung
2.
Menggunakan idea yang dimiliki setiap siswa
untuk bisa mengembangkan dirinya sendiri
3.
Pembelajaran dilakukan sesuai dengan minat siswa
4.
Idea siwa merupakan proses belajar siswa untuk mencapai tujuan
5.
Mengembangkan potensi dan kreatifitas siswa
6.
Dalam proses pembelajaran siwa berinteraksi
aktif dengan guru
7.
Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang penting sehingga sesuai
dengan hasil pembelajaran.
8.
Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
3. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME
1. Kelebihan
a. Menjadikan siswa berfikir
tentang pengetahuan baru, bias menyeesaikan masalah, dan bias berfikir dan
membuat keputusan
b. Menjadikan siswa paham dengan materi yang disampaikan
c. Siswa mempunyai nilai tambah yang lebih yaitu bisa
mengingat materi yang disampaikan karena siswa sendiri yang aktif
d. Meletih untuk berinteraksi social seperti dengan teman
kelompok, dan guru
e. Karena siswa terlibat secara terus, mereka akan paham, ingat,
yakin dan berinteraksi dengan lingkungannya, maka mereka akan berasa
meningkatkan belajar untuk membina pengetahuan baru.
2. Kelemahan
Kekurangan atau kelemahan dalam suatu penerapan
metode pembelajaran tergantung pada guru sebagai pelaksana metode. Pada metode kontruktivisme guru berperan hanya
sebagai pendukung bukan sebagai hal utama. Fokus konstruktivisme hanya ketika
proses pembelajaran itu terjadi.
A. Langkah-langkah Konstruktivisme
Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari
pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek siswa, peranan guru, sarana
belajar, dan evaluasi belajar.
1.
Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang
dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung
satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses
asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya.
Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan
pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas.
2.
Peranan siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan
pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif
melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang
hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa
untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar.
Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah
niat belajar siswa itu sendiri.
3. Peranan guru. Dalam
pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkontruksian
pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan
yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya
sebdiri.
4. Sarana
belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar
adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala
sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya
disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.
5. Evaluasi.
Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya
berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan,
serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman.
BAB III
KESIMPULAN
A.
MODEL
PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori
yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman
Tujuan pembelajaran menurut Behavioristik adalah
behavioral learning ourcome yang dinyatakan secara spesifik, seperti :
5.
A – Audience
adalah siswa
6. B – Behavior perilaku atau kompetensi yang perlu di tampilkan setelah
proses belajar dilakukan, seperti “ menjawab pertanyaan ‘’
7. C – Condition setelah menyelasaikan unit pelajaran yang dievaluasi diakhir
proses pembelajaran.
8. D – Degres yaitu pencapaian hasil belajar, misalnya 90 %.
Ciri-ciri Teori Belajar
Behavioristik
Untuk mempermudah mengenal teori belajar behavioristik dapat
dipergunakan ciri-cirinya yakni
1. mementingkan
pengaruh lingkungan (environmentalistis)
2. mementingkan
bagian-bagian (elentaristis)
3. mementingkan peranan
reaksi (respon)
4. mementingkan
mekanisme terbentuknya hasil belajar
5. mementingkan
hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu
6. mementingkan
pembentukan kebiasaan.
B. MODEL
PEMBELAJARAN KOGNITIVISTIK
Metode
pembelajaran kognitif merupakan salah satu metode pembelajaran yang menitih
beratkan pada bagaimana peserta didik berpikir, Winkel (1996: 53) dalam bukunya
mengatakan bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
Kelebihan dari Metode Pembelajaran Kognitif
1. Negara Indonesia dalam kurikulum pendidikannya lebih
menekankan pada teori belajar kognitif yang mengutamakan pada pengembangan
pengetahuan yang dimiliki dan value pada setiap individu
2. Pada metode pembelajaran kognitif pendidik hanya perlu
memberikan dasar-dasar dari materi yang di ajarkan untuk pengembangan dan
kelanjutannya diserahkan kepada peserta didik, dan pendidik hanya perlu
memantau, mengatur dan menjelaskan dari alur pengembangan materi yang telah
diberikan
3. Dengan metode pembelajaran kognitif maka pendidik dapat
memaksimalkan ingatan yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengingat semua
materi-materi yang diberikan karena pada pembelajaran kognitif salah satunya
menekankan pada daya ingat peserta didik untuk selalu mengingat dan mengingat
akan materi-materi yang telah diberikan
4. Tingkatan terakhir pada domain belajar
kognitif menurut krathwol adalah Creation yang berarti kreasi atau
pembuatan suatu hal baru atau membuat suatu yang baru dari hal yang sudah ada,
maka dari itu dalam metode belajar kognitif peserta didik harus lebih bisa
mengkreasikan hal-hal baru yang belum ada atau menginovasi hal yang sudah ada
menjadi lebih baik lagi.
5. Selain itu metode pembelajaran kognitif ini mudah
untuk di terapkan dan telah banyak diterapkan pada pendidikan Indonesia di
segala tingkatan.
Cara dan Strategi yang Tepat Untuk Menerapkan Metode Pembelajaran
Kognitif
1.
Dalam tahap Remembering
2.
Tahap Understanding
3.
Tahap Aplication
4.
Tahap Analysis
5.
Tahap Evaluation
6.
Tahap Creation
D. MODEL PEMBELAJARAN
KONSTUKTIVISTIK
Ø Memberikan keaktifan terhadap seseorang untuk
belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain
yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Ada empat prinsip dasar konstruktivisme dalam pembelajaran :
a. Pengetahuan
terdiri atas konstruksi masa silam
b. Pengkonstruksian
pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi.
c. Belajar
merupakan suatu proses organic penemuan lebih dari proses mekanik yang
akumulatif.
d. Mengacu
pada mekanisme yang memungkinkan terjadinya perkembangan struktur kognitif.
Belajar bermakna, akan terjadi melalui proses refleksi dan resolusi konflik.
dalam menerapkan metode konstruktivisme ada 7 langkah
DAFTAR PUSTAKA
Jamaris, martinis, Orientasi Baru dalam Psikologi
Pendidikan, ( yayasan penamas Murni, Jakarta 2010)
Joyce Bruce, Weil Marsha, dan
Calhoun Emily, Models of Teaching, Pustaka belajar, 2009.
- See more at: http://charis7512.blogspot.com/2013/05/makalah-cara-atau-strategi-metode.html#sthash.86tgkHS0.dpuf
Winkel, W.S. (1996). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo
Biggs, J.B & Collis, K.F. (1982). Evaluating the Quality of
Learning: the SOLO Taxonomy. New York: Academic Press
Sekolah Dasar, Teori Belajar Behavioristik, Kognitif dan Kontruktivisme,
(Online), (http://sekolah-dasar.blogspot.com/teori-belajar-behavioristik-kognitif/), diakses pada 22 April 2013
- See more at:
http://charis7512.blogspot.com/2013/05/makalah-cara-atau-strategi-metode.html#sthash.86tgkHS0.dpuf
Drost S.J.J. 2006. Dari KBK (Kurikulum Bertujuan Kompetensi) sampai MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah): Esai-esai Pendidikan. Jakarta : Penerbit Buku
Kompas. Halaman 3-8.
Glasersfeld, Von. 1988. Cognition, Construction of Knowledge, and
Teaching. Washington DC : National Science Foundation.
Grupta, A. 2008. Construction and Peer Collaboration in Elementary
Mathematics Education: The Connection to Estimology. Eurasia Journal of
Mathematics, vol 4, no.4,381-386.
Mujis dan Reynold. 2008. Effective Teaching: Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Piaget, J.1973. The Child and Reality (W.Mays, Trans). London :
Routledge dan Kegan Paul.
Slavin, R.E. 1994. Education Psychology: Theory and Practice (4 th
Edition). Boston:Allyn and Bacon.
Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam
Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Wadsworth, Piaget’s.1989. Theory of Cognitive and Affective Development
(4 th.) New York : Logman.
Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta : Bigraf Publishing.
[1] . Jamaris, martinis,
Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, ( yayasan penamas Murni, Jakarta
2010) hal. 162
[5] . - See more at: http://charis7512.blogspot.com/2013/05/makalah-cara-atau-strategi-metode.html#sthash.86tgkHS0.dpuf
[6] . Jamaris martinis,
Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, ( yayasan penamas Murni, Jakarta
2010) hal. 207
Tidak ada komentar:
Posting Komentar